Socialize

FacebookTwitterRSS

Berlangganan via Email

Pendidikan Tuntas untuk Anak Tunagrahita | oleh: Rejokirono MPd

Kamis, 19 September 2013 07:36 WIB.

Rejokirono

PENGALAMAN mendidik 25 tahun merupakan proses panjang bagi saya untuk terus belajar dalam mendidik anak tunagrahita hingga menemukan pendidikan yang dapat menghantarkan kemandirian. Pendidikan bagi anak tunagrahita idealnya tidak sebatas untuk meluluskan, tetapi bagaimana dapat menghantarkan anak tunagrahita menjadi mandiri sesuai potensinya. Tingkatan mandiri bagi tunagrahita ada tiga: (1) mampu mengurus dirinya sendiri (makan, minum, berpakaian, kebersihan badan, toilet training, dll), (2) mampu mengerjakan pekerjaan sederhana terkait dengan kerumahtanggaan dan lingkungan (menyapu, membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan lingkungan rumah, dll), (3) mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tiga pilihan (sebagai karyawan/pegawai, membuka usaha sendiri/wiraswasta, bekerja/berusaha secara berkelompok).

Anak tunagrahita bukan anak yang kekurangan waktu dalam belajarnya sehingga dengan ditambah waktu kompetensinya menjadi sama dengan anak normal, tetapi tunagrahita adalah anak yang beberapa syaraf dan sebagian organ tubuh lainnya kurang berfungsi secara optimal, sehingga memiliki tingkat kecerdasan/IQ <70, sulit menyesuaikan diri, cenderung ketergantungan, minder, berfikir kongkrit dan sederhana, sehingga membutuhkan kurikulum yang dirancang secara khusus dan sifatnya individual, sesuai dengan hasil assesmen.

Pendidikan bagi tunagrahita untuk mencapai kemandirian memiliki kekhasan:

  1. Holistik: Pendidikan dikemas secara menyeluruh tidak terpotong-potong, mengembangkan seluruh aspek dalam upaya mewujudkan kemandirian sesuai potensi yang dimiliki.
  2. Berkesinambungan: Kurikulum mulai dari TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, harus bersambung dalam rangka proses untuk mencapai kemandirian yang telah direncanakan. Untuk menjamin kesinambungan ini selain materi yang dikemas secara berkesinambungan, untuk penilaian salah satunya menggunakan portofolio yang berisi progres anak tunagrahita, atau kompetensi yang telah dicapai.
  3. Inklusif: Pendidikan dilakukan tidak eklusif di sekolah, tapi harus inklusif dalam kehidupan di masyarakat. Pendidikan dilakukan di sekolah dan di luar sekolah seperti pasar, industri rumah tangga, perusahaan, dan tempat-tempat umum lainnya. Hal ini dilakukan agar anak memiliki pengalaman sebanyak-banyaknya tentang kegiatan usaha. Dengan cara ini anak akan lebih siap untuk memasuki dunia usaha/dunia kerja, ataupun terkait dengan pekerjaan.
  4. Berorientasi outcome (kemandirian): Pendidikan tidak sebatas meluluskan, tetapi membawa anak menjadi mandiri sesuai potensinya. Evaluasi terhadap outcome menjadi penting karena akan memberikan koreksi apakah proses yang dilakukan selama ini telah mampu menghantarkan anak menjadi mandiri, seandainya belum maka segera dilakukan perbaikan proses yang dapat menghantarkan kemandirian.
  5. Melibatkan masyarakat (orangtua, pengusaha): Pendidikan tidak hanya asyik di sekolah, tetapi harus menjadi bagian dari masyarakat khususnya dunia usaha. Anak tunagrahita adalah bagian dari masyarakat, setelah selesai sekolah akan kembali bersama masyarakat, maka proses pendidikannya harus sebanyak-banyaknya melibatkan masyarakat.
  6. Program transisi: Anak tunagrahita setelah lulus masih perlu adanya layanan transisi, yaitu masa peralihan dari sekolah ke dunia kerja. Layanan ini untuk membentuk budaya kerja karena anak tunagrahita memiliki kesulitan menyesuaikan dunia kerja. Kegiatannya adalah magang kerja baik di lingkungan sekolah dan/atau di dunia kerja (tempat-tempat usaha umum di luar sekolah).
  7. Penyaluran Kerja: Kerja bagi tunagrahita dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu (1) bekerja menjadi karyawan atau pegawai di kantor atau perusahaan, (2) membuka usaha sendiri seperti buka warung, beternak, membuat kerajinan, dll, (3) membentuk kelompok usaha atau kelompok, kelompok ini dibentuk atau diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat termasuk pengusaha.
  8. Pendampingan: Anak tunagrahita yang bekerja atau berkarya pada tiga kelompok tersebut harus mendapatkan pendampingan, agar anak bisa nyaman ditempat kerja dan terhindar dari kesalah pahaman dengan teman kerja ataupun dengan atasannya.
  9. Membentuk kelompok usaha: Salah satu ciri khas usaha tunagrahita adalah berkelompok. Melalui kelompok ini anak akan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya untuk menciptakan karya atau produk. Dalam kelompok akan terasah kebersamaan sesama tunagrahita, maupun dengan orang normal yang bergabung dalam kelompok tersebut.

Hasil dari penerapan model ini adalah meningkatnya anak-anak tunagrahita yang mampu berkarya atau bekerja. Contoh kemandirian anak tunagrahita binaan SLB Negeri Pembina Yogyakarta antara lain: Yuliati (karyawan konveksi), Agus (karyawan mebeler), Kuwat (karyawan Gembiraloka), Dedi (clining servis), Arman (salea aqua), Wintolo (cleaning servis), Didit (cleaning servis), Thesa (warung es jus), Tunggul (karyawan SLB Pembina), Saiful (buka usaha las), Aslam (ternak ayam), Puji (tukang batu), Endri (cleaning servis), Nurdiansyah (mebeler), Retno (warung makan), Novita (menjahit tas). ***

*Penulis adalah Kepala Sekolah SLB Negeri Pembina Yogyakarta

 

Ditulis oleh on 19 September 2013. Dalam kategori Titik Nol. Anda dapat mengikuti respon/komentar melalui RSS 2.0. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.
Dunia Jogja - Portal Berita Lokal Nomor 1  Dunia Jogja - Portal Berita Lokal Nomor 1